Lumpur Menjadi Saksi, Anak-anak Sekolah Cirigi – Patia Masih Menulis Sejarahnya Sendiri Di Hari Pahlawan

Pandeglang, Jurnalis Banten Bersatu Hari ini, 10 November 2025, bangsa kembali menunduk sejenak mengenang para pahlawan. Di layar televisi, wacana kepahlawanan menggema indah—tentang perjuangan, tentang kemerdekaan, tentang darah dan air mata, Senin (10/11/2025).

Namun di Kampung Cirigi, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Patia, kepahlawanan bukan kisah masa lalu. Ia hidup, meski tanpa panggung, tanpa tepuk tangan, tanpa medali.

Anak-anak berseragam sekolah melintasi jalan berlumpur, menenteng sepatu di tangan dan berjalan tanpa alas kaki menyeimbangkan tubuh di atas genangan yang seolah menertawakan janji pembangunan. Di sanalah, makna perjuangan kembali menemukan bentuk paling jujur—bukan di pidato, tapi di langkah yang terperosok.

Di dekat jalur TMMD ke-117, yang katanya menghubungkan Desa Patia dengan Simpang Tiga, rencananya akan dibangun sebuah flyover megah: Jalan Tol Serang-Panimbang. Sementara itu; di bawahnya, rakyat kecil berjuang menembus lumpur menuju sekolah dan sawah.

Ironi itu menulis puisi sendiri—tentang jarak yang tak hanya diukur oleh kilometer, tapi oleh perhatian yang timpang.

Kepala Desa Patia, Sarna, saat dikonfirmasi, hanya bisa menghela napas panjang. Jalan yang berlumpur bukan sekadar masalah infrastruktur, tapi cermin dari betapa pendek pandangan kita tentang makna “merdeka”.

Barangkali, bangsa ini memang pandai berziarah pada makam pahlawan, tapi lupa mencari pahlawan yang masih hidup—mereka yang berjuang setiap hari di jalan yang bahkan belum bisa disebut jalan.

Hari Pahlawan seharusnya bukan sekadar seremonial. Ia seharusnya menjadi cermin: agar kita bertanya, siapa sebenarnya yang sedang kita rayakan—pahlawan yang gugur di medan perang, atau mereka yang hari ini masih berperang melawan lumpur dan ketidakpedulian?

Sebab di Cirigi, lumpur bukan sekadar tanah basah. Ia adalah simbol dari cita-cita yang belum kering.

Penulis: Kasman

Related posts
Tutup
Tutup